Rabu, 10 April 2013

sosiologi-Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Perilaku Pelajar SMA kota Pangkalpinang


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Perilaku Pelajar SMA kota Pangkalpinang
By : Megawati
Pergeseran perilaku pelajar karena adanya norma-norma yang semakin kabur sehingga pelajar melakukan penyimpangan, seperti yang dikatakan Max Weber (dalam Wardi Bachtiar, 2006:269) dua pernyataan fundamental mengenai berbagai makna merupakan hal  yang penting bagi Weber. Pertama, seseorang haruslah menyadari tentang fakta bahwa perilaku bermakna samar dalam bentuk-bentuk yang tidak bermakna. Banyak perilaku tradisional begitu biasa seakan-akan hampir tidak bermakna. Dalam hal ini dimaksudkan adalah adanya budaya dan norma-norma yang seharusnya dijunjung tinggi karena didalam budaya terdapat nilai-nilai dan norma sosial. Misalnya adat istiadat yang mempunyai nilai pengontrol dan nilai sangsional terhadap tingkah laku masyarakatnya. Setiap daerah ataupun wilayah mempunyai nilai adat istiadat yang berbeda, ini disebabkan berbedanya asal usul suatu daerah, berbedanya suku dan berbedanya suatu budaya dengan budaya daerah lainnya. Sedangkan norma-norma sosial yang berlaku adalah keempat norma yang berlaku secara nasional yaitu : Norma agama, Norma kesopanan, Norma kesusilaan, Norma hukum.
Norma-norma sosial tersebut sama dan berlaku disetiap daerah di indonesia umumnya. Namun karena sifatnya yang abstrak membuat kebudayaan dan norma-norma tersebut semakin tergerus. Apalagi era globalisasai dimana semuanya bisa dilihat, dan dicoba. Ketika gaya pakaian ala kebarat-baratan yang tidak sesuai dengan norma kesopanan dan adat istiadat suatu daerah  yang dulunya hanya bisa dilihat di televisi dan majalah tetapi sekarang remaja bisa melihat fashion, style, trend melalu majalah dan televisi, bukan hanya melihat, mereka bisa mencoba dan merasakan trend tersebut tinggal pilih dan beli. Sekarang mencoba sesuatu yang baru tetapi tidak sesuai dengan norma-norma dan adat istiadat adalah menjadi hal yang biasa untuk para remaja. Menggunakan celana pendek ataupun rok mini ditempat umum adalah gaya hidup. Karena norma-norma dan adat istiadat sifatnya tidak nampak, akhirnya norma dan adat istiradat yang semakin kabur di era globalisasi ini membuat perilaku pelajar semakin menyimpang. Pernyataan kedua adalah mengenai makna adalah lebih penting, karena pentingnya hakikat kaausal dari makna. Sejauh mana makna menjadi kausal perilaku?. Tidak bermakna itu bukan berarti identik dengan menjadi tidak adanya kehidupan atau tidak adanya manusiawi. Dikaitkan dengan perilaku pelajar, penyimpangan yang mereka lakukan menjadi tidak bermakna ketika norma-norma dan adat istiadat tidak lagi diberlakukan pada kehidupan mereka. Sesuatu tidak memiliki makna hanyalah jika sesuatu itu tidak dapat dihubungkan dengan aksi peranan metode dan kegunaannya. Suatu kategori fakta adalah tidak memiliki  makna akan tetapi penting untuk menjelaskan aksi menyangkut berbagai fenomena psikologinya seperti kegembiraan, kebiasaan, dan lain-lain. begitu pula perilaku pelajar yang menyimpang itu termasuk tidak bermakna karena tidak ada kegunaannya, makna kegunaannyalah yang tidak ada dari perilaku pelajar yang menyimpang itu, tetapi perilaku psikologis mereka seperti bahagia, sedih, kebiasaan mereka itu menjelaskan kalau bahwasanya mereka melakukan aksi, meskipun aksinya tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang berguna. Dalam hal ini perilaku penyimpangan dikhususkan pada perilaku seks bebas dikalangan pelajar.
Seks bebas yang terjadi di kalangan pelajar terjadi karena adanya faktor-faktor yang mendukung. Ada beberapa faktor yang mendukung sehingga adanya peluang untuk pelajar melakukan seks bebas. Berdasarkan hasil wawancara menurut pemikiran saya ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran perilaku pelajar kota pangkalpinang adapun fakor-faktor yang mempengaruhi pergeseran perilaku pelajar adalah sebagai berikut :
1.      Lingkungan tempat tinggal dan pergaulan. Lingkungan dan tempat tinggal menjadi faktor yang sangat mempengaruhi tingkah laku dan pola berpikir pelajar. Ketika tempat tinggal pelajar yang jauh dari kontrol orang tua ataupun wali mereka, maka yang terjadi adalah pelajar tersebut akan bebas dan bertindak semaunya. Teman  sepergaulan juga sangat mempengaruhi tingkah pola dan perilaku dalam diri pelajar. Ada pepatah mengatakan berteman dengan orang yang menjual parfum akan kebagian wanginya, begitu juga dengan kehidupan nyata, pelajar yang tidak bisa memilih dalam berteman akan terjebak dalam situasi dan akhirnya akan mengikuti perilaku temannya yang lain. misalnya anak laki-laki yang sebelumnya bukan banci ketika berteman dengan banci lama kelamaan akan terikut juga, begitu juga ketika pelajar berteman dengan teman-temannya yang pergaulannya bebas, maka tidak menutup kemungkinan akan terjebak juga didalam pergaulannya. Pelajar sekarang kenyataannya bercerita satu sama lain tentang seks bebas dengan temannya adalah hal yang biasa. Pelajar yang terlibat dalam dunia seks bebas, itu artinya mereka tidak menganggap bahwa virginitas itu berharga, sehingga mereka tidak bisa mempertahankan virginitasnya. dan dalam memilih teman bermain hal yang harus dilakukan, karena tidak semuanya teman bersikap baik, ada kalanya persaingan membuat teman iri dan ingin menjatuhkan kita. Berteman boleh saja asal bisa menjaga jarak. Teman yang baik itu adalah teman yang saling memberikan dukungan dalam hal yang positif.
        Seharusnya pergaulan remaja harus dengan kontrol orang tua atau orang yang dituakan, bisa jadi keluarga atau pun ibu kos. Dengan begitu pelajar tidak bisa bertindak sesuka hatinya. Dan pelajar harus dibekali dengan pengetahuan begitu juga pengetahuan tentang seks, agar pelajar bisa membedakan mana yang wajar dan yang tidak wajar. Dan akhirnya kembali kepada pribadi masing-masing untuk menjaga diri. Lingkungan disini termasuk juga lingkungan keluarga didalamnya. Disinilah peran orang tua sangat bearti misalnya memberikan perhatian kepada anak, kasih sayang, dan juga nasehat, karena orang tualah yang terdekat dengan pelajar selain guru, teman, dan juga pacar. Mengapa harus dengan kontrol orang tua, bahwa salah satu penyebab terjadinya seks bebas oleh pelajar di Kota Pangkalpinang adalah pelajar merasa bebas ketika mereka harus “berpisah” tempat tinggal dengan orang tua, sehingga pengawasannya kurang. Biasanya di kampung atau ketika tinggal bersama dengan orang tua jadwal main ataupun keluar malam akan dipantau oleh orang tua. Kebebasan itulah akhirnya membuat pelajar menjadi salah satu pelaku seks bebas, karena seks adalah hal yang biasa untuk dilakukan pada akhirnya mereka menilai sebuah virginitas itu adalah hal yang biasa saja.
        kontrol masyarakat pun berperan dalam perilaku pelajar, misalnya untuk pelajar yang kos. Apakah RT/RW bertindak tegas akan daerahnya. Ada beberapa kelurahan di Pangkalpinang yang menyediakan kos-kosan yang aturannya bebas, misalnya kosan putri bisa membawa teman laki-lakinya masuk kedalam kamar. Ini bukanlah hal yang tabu lagi, bahkan saling terbuka satu sama lain, anehnya masyarakat sekitar tampak tidak peduli dengan keberadaan kos tersebut yang membebaskan peraturan untuk penghuninya. Ini dapat menjelaskan bahwa ketua RT/RW tidak mau tahu akan situasi kosan tersebut, terkadang mereka tahu tetapi takut menyinggung pemilik kos yang terkadang merupakan warga dari RT/RW tersebut dan ada juga yang beda kelurahan maupun beda kota. Di Pangkapinang sendiri masih banyak terdapat kos-kosan dengan embel-embel bebas, dan biasa lebih mahal daripada kos-kosan dengan aturan yang ketat tersebut. Ada juga sebagian kosan yang penghuni kosnya harus mengikuti tata tertib baik secara lisan maupun tulisan, bahkan tidak segan-segan pengurus kos memberitahukan atau menanyakan ketika penghuni kos melakukan kegiatan yang dianggap melanggar peraturan kos. Seharusnya setiap kos ada peraturan yang harus dibuat agar bisa mencegah terjadinya perilaku penyimpangan, terutama dikalangan pelajar.
        Terjadinya penyimpangan dan pergeseran perilaku pelajar dapat terlihat dari hasil
  Berdasarkan informasi dari informan maka pengamatan peneliti bahwa seks bebas merupakan hal yang biasa dan tidak tabu lagi. Bahkan mereka berani bercerita dengan teman-temannya, ini disebabkan seks merupakan hal yang biasa dimata informan sehingga tidak perlu merasa malu, seolah-olah seks bebas bukanlah merupakan suatu bentuk penyimpangan. Telah terjadi pergeseran perilaku pelajar sehingga mereka memaknai virginitas itu bukanlah hal yang penting, sebelumnya mereka menganggap virginitas itu adalah hal yang harus dijaga, tetapi dengan terjadinya pergeseran perilaku remaja maka makna virginitas itu sudah tidak diindahkan lagi. Salah satu faktor penyebab terjadinya seks bebas ini adalah lingkungan tempat tinggal termasuk juga keluarga, selain keluarga teman bergaul juga sangat mempengaruhi. Penggunaan internet tanpa pengawasan orang tua bisa juga menjadi penyebab, dunia maya yang seharusnya menjadi tempat bersosialisasi untuk mendapatkan teman baru bisa jadi membawa dampak yang merugikan pelajar.
2. Faktor Ekonomi. Faktor ekonomi sangat mempengaruhi pergaulan diantara pelajar, adanya rasa gengsi yang tinggi dan bersaing dengan teman-teman membuat pelajar ingin memiliki barang-barang yang sifatnya update misalnya baju baru, sepatu model terbaru, bahkan sampai dengan handphone terbaru misalnya blackberry. ) seperti yang dikatakan oleh Marjohan dinyatakan bahwa hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup, atau hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata. Gaya hidup inilah yang terjadi pada pelajar masa kini terutama pelajar SMA di Pangkalpinang. Mencari kesenangan adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya keadaan yang kurang mampu memaksa para pelajar tersebut harus menawarkan jasanya kepada pria “hidung belang”. Semua dilakukan asal teman-temannya tidak menganggap dia adalah orang miskin. Demi uang pelajar rela melakukan apa saja demi sebuah kesenangan, agar bisa membeli apa saja yang mereka mau. Seks bebas sebenarnya hal yang sangat bertentangan dengan norma, apalagi Bangka Belitung adalah rumpun melayu yang sangat kental adat istiadatnya. Pergeseran dan perubahan sosial akhirnya menggerus adat itu sedikit demi sedikit, yang akhirnya virginitas harusnya dipertahankan sekarang menjadi hal yang biasa saja bahkan bisa dibeli. Lingkungan tempat tinggal dimana pelajar itu tinggal dan teman sepermainan menjadi faktor pendukung pembentukan karakter dan sifat pelajar. Selain itu media, misalnya penggunaan telepon seluler, kebanyakan pelajar SMA di Pangkalpinang ini menggunakan HP yang rata-rata sudah memiliki aplikasi kamera dan memori card. Terkadang aplikasi tersebut disalahgunakan, begitu juga dengan penggunaan internet, selain sebagai tempat mencari informasi untuk kebutuhan pelajaran, internet juga bisa menjadi teman yang bisa menjebak pelajar, misalnya dengan bermain game sampai lupa waktu sampai dengan mendownload film dewasa. Penggunaan teknologi dan komunikasi yang semakin canggih terkadang membantu proses pembelajaran, tetapi ketika tidak diawasi penggunaannya maka akan memberikan dampak yang tidak baik untuk perkembangan dan perilaku pelajar. Selain itu teknologi komunikasi dan faktor ekonomi sangat berkaitan erat dalam hal ini pelaku seks bebas yang kehidupannya dengan ekonomi kelas bawah tetapi ingin memiliki handphone terbaru yang pasti harganya cukup mahal, sehingga untuk mendapatkan handphone terbaru itu akhirnya pelajar menawarkan jasanya kepada yang memerlukan.
Virginitas takkan bearti lagi kalau bisa dibayar dengan uang, bisa saja itu terjadi seperti film “Virgin” film layar lebar di negara kita ini yang pernah mengangkat cerita pergaulan remaja, karena genggsi yang tinggi dari akhirnya menjual “keperawanannya” agar mendapatkan apa yang mereka inginkan.
3. Penggunaan teknologi dan komunikasi. Penggunaan handphone dengan teknologi pendukung seperti kamera dan memiliki kapasitas kartu memori memudahkan para pelajar menyimpan data seperti foto dan video yang  sama sekali tidak untuk mendidik. Internet juga menjadi salah satu faktor, adanya jejaring sosial yang memudahkan para pelajar kenal satu sama lain dengan mudah dengan hanya berselancar di internet,  terkadang terjadi transaksi melalui via internet dan jejaring sosial. Tidak sampai disitu saja penggunaan internet tanpa pengawasan orang tua memudahkan pelajar bebas menyelami dunia maya yang terkadang ada beberapa situs khusus dewasa tetapi sengaja dibuka oleh pelajar karena rasa ingin tahu yang begitu besar. Penggunaan handphone dan internet seharusnnya dalam pengawasan orang tua agar tidak terjadi penyalahgunaan teknologi dan alat komunikasi. Seharusnya pelajar tugasnya adalah belajar untuk mencapai sebuah prestasi agar muncul persaingan yang sehat untuk saling menjadi yang terbaik. Hal ini dapat memicu semangat seorang pelajar untuk selalu menjadi juara, baik secara akademis maupun non-akademis. Dengan prestasi tersebut bukannya bisa membanggakan kedua orang tua pelajar. Dengan berprestasi dan mempunyai kesibukan akhirnya pelajar akan menjauhi perilaku menyimpang, dalam hal ini seks bebas. kurangnya pengetahuan tentang seks membuat para pelajar merasa bersalah ketika terjebak dalam perilaku seks bebas. semua ini disebabkan adanya pergaulan yang kurang terkontrol. Penggunaan internet dikalangan remaja bagaikan dua sisi mata pisau, dimana yang salah satunya berguna, membantu pelajar dalam mencarikan informasi untuk tugas dan PR mereka, tetapi disisi lain penggunaan “social network” misalnya facebook, twitter, camfrog, youtube dan lain-lain. tanpa ada pengawasan bisa saja pelajar melakukan tindakan yang akhirnya menjerumuskan mereka kedalam seks bebas.
4.      Kurangnya pemahaman tentang agama. Kedekatan dengan tuhan akan membuat seorang manusia takut akan dosa, pelajar yang dekat dengan tuhannya akan menjauhi larangan yang akhirnya mendapatkan dosa ketika dilakukan. Keluarga seharusnya sudah mengenalkan agama kepada anakanya ketika masih kecil dan selalu mengawasi perilaku anaknya. Kurang pemahaman tentang agama juga berarti kurang memahami norma-norma yang berlaku di negara ini. Sudah pasti peilaku seks bebas sebelum menikah itu sangat menyimpang baik dimata hukum, kesusilaan, kesopanan, dan agama. Nilai dan norma-norma yang berlaku tersebut sudah tidak berarti lagi ketika pelajar lebih suka berdiam diri di depan komputer dan berselancar di dunia maya, norma kesusilaan tidak akan berlaku lagi ketika pelajar pacaran ditempat umum, norma keagamaan tidak berlaku lagi dan mereka bahkan tidak tahu kalau perilaku seks bebas itu menyimpang dari aturan agama dan kepercayaanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar