Kamis, 17 Oktober 2013

situ sexy


Saya = sexy atau maksa?

Entah kapan mulainya saya suka berpakaian sexy, pakaian sexy bukan hanya identik dengan baju yang terbuka disana sini, atau pakaian yang super mini. Baju lengan panjang tertutup pun bisa dibilang sexy kalau bajunya super ketat sampai memakainya pun susah. Nah baju yang kayak gini nih yang saya gak suka banget. Soalnya saya takut menonjolkan lemak yang tidak terlihat (saya paling takut ada lemak yang berlebih tapi terlihat huh). Saya dibilang sexy karena suka pakai celana pendek atau baju tanpa lengan, (atau memang pada dasarnya saya emang sexy kali yah uhuiii jangan iri dunk).

Setiap kali melihat teman komen foto-foto saya pasti bilang “ sexy banget sha” atau yang cowok komen dengan gombalnya “ badannya bagus” sebenarnya risih juga sih dikomen kayak gitu tapi apa daya saya suka dan nasib cewek sexy yah kayak gitu (maksa). Pakaian saya sebenarnya nggak sexy2 amat lah, Cuma celana pendek degan kaus ataupun kemeja kadang-kadang pake kaus tanpa lengan juga tapi gak parah-parah banget. Tak tahu juga dimana mereka menilai saya sexy. (sebenarnya saya sexy juga tak masalah wong kalau tanding volipantai juga lebih parah pake bikini lagi).

Dari semua komen teman-teman tentang saya yang sexy paling takut adalah komen dari dosen saya, yang kebetulan jadi pembimbing skripsi saya. Berawal dari saya menginvite dosen saya ibu aimie sulaiman di BBM (blackberry messanger) biar mudah menanyakan bisa tidaknya saya konsultasi kepada beliau. Sejak pertemanan di BBM itu secara tidak langsung saya mulai berfikir untuk updates status tidak sembarangan dan tidak berkata kasar meskipun lagi emosi, tapi saya lupa dengan DP (display picture) yang selalu saya ganti 5 menit sekali bak seorang artis tanpa melihat bagaimana foto saya itu, tetapi rata-rata DP yang saya pasang itu yah foto saya di tempat wisata gitu deh. Sampai ada teman yang komen, perasaan DP kamu ini tak pernah duduk dikursi atau dimana gitu yang kesannya ditempat biasa saja, pasti ditempat wisata dan diluar kota terus, lalu saya membalas BBMnya dengan hanya komen hmmmmm, bisa ajah (sombong, angkuh, congkak hahhahahha). Oke balik kepermasalahan dosen saya tadi, lupa saya pasang foto yang mana, pakai baju apa, dan dimana saya beneran lupa karena foto of myself ada ribuan di HP saya bukan ratusan huh. Jadilah saya siding skripsi, saya yang 1,5 tahun berkutat dengan skripsi (bukan karena saya bodoh atau apa itu karena lagi TC (training camp) untuk PON 10 bulan jadi saya focus di PON saja dan membiarkan skripsi saya terbengkalai.) saking lamanya skripsi saya tersebut saya sampai hafal luar dalam depan belakang termasuk juga teorinya, jadilah sidang saya berjalan dengan sangat lancar dan usut punya usut saya mendapatkan nilai “A” waw banget bagi seorang  sasa yang nilainya selalu pas-pasan. Saya kira sehabis sidang yah keluar salam-salaman sama dosen, ternyata tidak berlaku untuk saya, tiba-tiba saja saya disidangkan oleh dosen saya (ibu Aimie) beliau berkata “ shasya (Beliau memanggil saya dengan nama gaul saya sesuai dengan nama di BBM saya) kalau berfoto itu jangan yang sexy-sexy lah, kan kamu itu seorang calon sarjana, masak fotonya seperti itu, janji yah jangan lagi memasang foto yang sexy” dan saya pun mengangguk dan bilang iya buk (serasa anak SD lagi deh).
Sejak kejadian itu “mungkin” selama 2 bulan saya tidak memasang foto saya yang sexy, dan itu tentu saja sulit karena rata-rata foto saya saat travelling dengan baju yang terbuka semua, huh lagi-lagi susahnya jadi orang sexy.
Kejadian lain terjadi disaat saya dan mantan saya jalan-jalan ke green canyon. Saya Cuma pake tanktop dan rok yang tidak sexy, tapi tanktopnya itu loh backness deh kayaknya hahhaha. Kami berenti makan di saung ntah apa namanya saya lupa, dan Saat pembayaran saya disuruh membayar oleh (pacar saya waktu itu, dia memang selalu menyuruh saya yang bayar, hanya uangnya pasti selalu uang dia hahhahaa). “sabarahak buk” dengan logat sunda yang maksa, si ibuk menjawab  sekian sekian gitu  deh, saya melongoh tas untuk mengambil uang, dan ibu itu berkata lagi “neng emang panas banget yah harus pakai baju kayak gitu”?. Saya yang sebenernya tak suka dingin malah, tapi karena saya lagi on vacation loh, hello saya ini lagi “nuris” saat-saat kayak gini lah aku bisa pakai baju sexy, kalau pakai baju kayak ginian di Bangka mungkin saya akan jadi “artis” sepanjang jalan sepanjang kota karena bakalan diliatin orang dari atas sampai bawah. Lalu saya pun menjawab  dengan halus “ia buk, panas banget malah, makanya pakai yang kayak ginian,(sambil nyelonong pergi).

Tak berenti sampai disitu pernah saya waktu itu main voli (tarkam alias tarikan kampong gitu deh), jadi gini nih kejadiannya, kami cerita-cerita dan akhirnya mereka bisa nebak kalau saya demen jalan-jalan. Mereka pun berkata, “bisa lihat fotomu gak sa”, saya yang narsisnya tingkat langit tujuh lapis pun dengan bangga memamerkan foto saya kepada mereka, dan apa yang mereka katakan? (wait mereka semua ini emak-emak Cuma saya yang masih muda diantara mereka).
“ya ampun celana yang kamu pakai pendek semua yah sa, ada yang pakai celana panjang tapi bajunya terbuka dimana-mana” saya hanya senyum-senyum (pasti emak-emak itu iri karena badannya tak selangsing saya lagi,wekwekwek nasib emak-emak yah).
 Kalau tidak sexy dan maksa untuk sexy bukan saya namanya, wong kalau mau kemana-mana yang pasti keluar kota yang dari Bangka ini saya pasti mencari mana celana sejengkalku. Di Bengkulu pernah saya pakai celana jins yang Cuma sejengkal hanya untuk cari makan siang, langsung ajah ada anak kecil komen “sexy banget tante itu” hahahhaha wita teman volipantai saya Cuma senyum-senyum lihat komen anak itu, dan akhirnya saya mengganti celana saya itu secepatnya. Ada kota yang membuat saya tak betah memakai pakaian sexy, saya malah adem berkerudung meskipun panas menyengat itu lebih baik daripada di tangkap WH (wiladatul hisba, polisi syariat) bisa menebak kan dimana saya saat itu, apalagi kalau bukan Aceh loen sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar